About Me

November 5, 2016

Bakas Adventure: Elephants ride hingga rafting

Saat traveling, tak jarang kita menginginkan singgah di beberapa tempat sekaligus. Namun, kadang terkendala dengan jarak yang berjauhan. Nah, kali ini nih saya bakal mengajak kalian jalan-jalan mengitari Bakas, one stop adventure yang nggak bikin kamu repot pindah area untuk menikmati beragam atraksi.

Setiba di pelataran lobi, saya dan teman-teman langsung disambut dengan welcome drink, lalu mengurus keperluan administrasi. Atraksi pertama yang ditawarkan kepada kami adalah Elephant Ride. Ini pengalaman pertama saya mengelilingi taman dengan menunggangi gajah. Sebut saja pak Rahasia (karena saat itu memang tidak menyebutkan namanya :))) yang menjadi driver kami saat itu, bercerita sambil menavigasi Elsa, gajah kami. Di Bakas, satu gajah hanya diperbolehkan mengantar tamu sebanyak dua kali dalam sehari. Dalam perjalanan pun, pak Rahasia terus bercanda dengan Elsa yang membuat kami tertawa juga. Beberapa kali pak Rahasia menyuruh Elsa berhenti untuk istirahat. Duduk di atas gajah tidak lah mudah. Belum lagi jalan turunan dan tanjakan yang membuat saya salting karena takut merosot :)) Di penghujung perjalanan, kami harus melintasi sungai yang membuat kami berteriak, haha!


November 2, 2016

A Letter To My Future Man

Dear, my future man. If by any chance you come across this blog, I want to let you know that you're not alone -- I've been waiting for you too. All these years my head has been manipulating me with its imaginations and temporary pleasures. My latest relationship treated me like a loop; devoted to a person, and stuck with the same issues for years that... I never know when it will end. Sweet-thrilling proposal, I've done that, and failed. I've buried the idea of a marriage like... a year ago, maybe. Not because I'm giving up on love, I'm just giving my heart a break. People said we have to take our time in finding the love we deserve, huh? So yeah I'm doing it.

November 1, 2016

Nusa Dua Coffee Week 2016

Jika Bandung Bondowoso mampu membuat 999 candi dalam satu malam, maka co.ple bisa membuat event dalam waktu kurang dari sebulan :))

Event ini bermula dari tawaran Bali Collection dan Nirwana TV kepada Odiet. Karena satu dan dua hal, rencana mengusung nama Nusa Dua Brewers gagal. Terbentuklah co.ple (akronim dari coffee and people), yang merupakan sekumpulan orang gila yang bersedia menggarap dari persiapan hingga eksekusi acara. Saat itu persiapan kurang dari sebulan. Dan saya sendiri tak banyak terlibat saat operasional awal karena terbentur pekerjaan. Jadilah semua hal dikomunikasikan hanya via surel :))


October 13, 2016

Horas, Danau Toba! (Part 1)

"Halo, kak Adit, ya?", sapa seorang berawak kecil sambil menyodorkan tangannya. Begitulah kira-kira pertemuan kami (saya, dan bli @commaditya) dengan teman-teman @butartrip. Doan dkk inilah yang akan kami repoti selama di Samosir. Semoga betah ya, kata saya dalam hati haha. 

Dari bandara Silangit, kami menuju Tele. Perjalanan selama 2 jam ini kami habiskan dengan bertukar cerita dari minuman keras, hingga proses pekuburan yang mirip dengan Toraja. "Di sini banyak tugu keren ya. Untuk mengenang pahlawan?", tanya saya clueless, maklum, perjalanan pertama ke Sumatra. "Itu kuburan, kak.", jawab Doan dengan senyum nyengir khasnya. Jadi, kuburan di sini dibangun di sebuah lahan (yang kadang jauh letaknya dari rumah), dengan desain dan ukuran yang beragam. Dalam satu tugu biasanya berisi satu keluarga. Dari kuburan, tulang akan diangkat dan dipindah ke tugu, proses ini disebut mangokkal holi. Btw, ini rute #TobaTrip saya kali ini:


September 19, 2016

Awal

: jh
yang kupikir lautan, rupanya
dada yang kini berdebur
yang kupikir langit, rupanya
kepala yang tak henti meletup
kau ombak dan kembang api,
mantra pengusir sepi
jika diizinkan, biar kurapal
dirimu setiap hari --
-- menghidupkan jiwa yang lama mati


Menjangan, 2016
d.

Castle Hill: Si bukit merah jambu


"Sorry, I'm new in here. May I ask you, what is that-pinkish hills name and how to get there?"

Kunjungan kedua di Juliette's akhirnya menjawab pertanyaan saya selama dua hari belakangan ini. Setiap perjalanan pulang dari The Strand, bukit inilah yang menjadi pemandangannya. Jelang matahari terbenam, guratan warna merah jambu menyeruak di puncak. Dengan berbekal informasi dari seorang pemuda di coffee shop, saya memutuskan untuk trekking di bukit granit pink ini. Castle Hill memiliki ketinggian kurang dari 1000ft. Ah, nggak terlalu tinggi, pikir saya. Setelah tiba di pelataran parkiran, saya mengikuti penunjuk jalan masuk ke jalur trekking.


September 8, 2016

Guwang: Sesaat di Hidden Canyon

Sejak pertengahan tahun 2015, saya sering membaca tentang tempat wisata baru yang katanya heitsss ini. Setelah beberapa bulan kembali ke Indonesia, saya baru sempat singgah di minggu pertama September. Tiket masuk sebesar IDR10,000/ orang, dan menyewa pemandu dengan tarif IDR50,000. Saya sempat bertanya kepada petugas tiket, apakah ini wajib. Iya, jawab beliau.

Setelah menuruni anak tangga dan berjalan sekitar 200 meter, lekukan batu yang disebut dengan Canyon Satu mulai terlihat.  Oh ya, tugas pemandu di sini yaitu membawakan sepatu (harus dilepas karena sepanjang canyon tinggi air se-mata kaki hingga betis), menjelaskan tentang area tempat wisata, membantu memanjat tembok batu, juga sebagai juru foto. Saat itu saya jalan bersama sepasang turis dari India, menjadi penerjemah karena sang pemandu tidak bisa berbahasa Inggris.

June 10, 2016

Teluk Brumbun: Bermalam dengan jalak Bali

Beberapa kali mengunjungi pulau Menjangan, namun #melaligen tak pernah sempat mampir menelusuri Taman Nasional Bali Barat. Perjalanan ke Teluk Brumbun kali ini juga merupakan acara "pelepasan" salah satu teman saya, Surya, akan berangkat berlayar. Jika tak mengambil momen ini, entah kapan kami semua bisa singgah di TNBB :))

Jujur, saya tak pernah mencari tahu apa isi taman nasional ini. Seperti biasa, sebelum memulai perjalanan, kami berkunjung ke rumah Cak Ismu. Keuntungan mengenal warga lokal adalah kemudahan akses dan informasi setempat. Kami diperkenalkan dengan 2 pemandu lokal: pak Sahlan, dan pak Zulham yang akan mengantar kami menuju lokasi. Setelah makan siang, kami memulai perjalanan. Tiket masuk TNBB saat ini IDR10,000 untuk lokal, dan IDR200,000 untuk WNA. Dari gerbang menuju bibir teluk memakan waktu 45 menit dengan motor. Jalannya berbatu dan becek sisa hujan, jadi harus ekstra hati-hati saat mengemudi. Di dalam taman nasional terdapat berbagai habitat hutan seperti hutan bakau, hutan musim, hutan pantai, tak lupa sabana. Unik, karena merupakan perpaduan antara dua ekosistem yaitu darat dan laut.


Mantar: Negeri di atas awan

Rasanya tak pernah bosan untuk mengunjungi pulau yang satu ini. Meski terhitung jauh, kapanpun ada tawaran singgah di sini, saya tidak mampu menolak :)) Tarif ferry Lombok – Sumbawa masih sama yaitu IDR49.500/ motor, tanpa diberi kembalian, hahaha. Setiba di Pototano, kami langsung bertemu dengan Comenk; teman baru, yang akan menjadi pemandu kami. Karena hari sudah gelap, kami bergegas menuju Ranger point yang berada di rumah keluarga Comenk. Untuk menuju desa yang ingin kami tuju terdapat 3 cara, yaitu: jalan kaki (jarak tempuh 2 jam untuk warga lokal), menggunakan sepeda motor, atau sewa Ranger. Pilihan kami jatuh pada pilihan terakhir. Kenapa? Karena dari berita yang kami dengar, tanjakan menuju puncak cukup curam. Setelah berada di atas motor selama 12 jam Bali – Lombok – Sumbawa, badan saya tiba-tiba ngilu dengan pilihan pertama. Juga nomor 2. Lagipula, biaya Ranger tidak mahal, karena ditanggung bersama. (Ngeles) (Padahal karena badan menua) (Hiks)

Desa ini disebut sebagai desa di atas awan; karena letaknya di dataran tinggi, tepatnya 600mdpl. Dan benar saja, tanjakan selama perjalanan cukup membuat saya baca doa Bapa Kami, dan tiga kali Salam Maria. Kami tiba di puncak kira-kira pukul 10 malam. Yang rencananya langsung membangun tenda, namun gagal karena kami menemukan bale di tengah kebun jagung. “Yes, tinggal gelar matras dan sleeping bag.”, kata saya dalam hati, mungkin juga teman yang lain. Selang beberapa waktu, gigitan mulai terasa. Tak lama, nyamuk mulai menggerayangi sekujur tubuh kami. Kata Comenk, karena tidak ada angin, maka nyamuk keluar semua. Alhasil sepanjang malam mata kami terpejam, dengan tangan yang tak henti menggaruk. Beberapa teman mencoba mengatasi keadaan tersebut dengan membuat asap dari sisa daun jagung kering. Lumayan mengurangi nyamuk. Sesaat. Setelah itu mereka kembali lagi. Dan malam itu kami terlelap bermandikan nyamuk, serta berbalur asap :))


January 3, 2016

Lake Tyrell: Padang Garam di Victoria


Mengingat masa visa saya akan habis, Bella; roommate saya, mengajak berpetualang ke Lake Tyrell. “Main di danau, oh lucu juga.”, kata saya.

Pagi itu saya, Bella, dan dua teman asal Hongkong berangkat dari Carlton menuju Mallee district, Victoria. Perjalanan memakan waktu 4 jam, dan kami sempat singgah di Bendigo untuk makan siang. Setelah melanjutkan perjalanan selama 1 jam, kami tiba di sebuah tempat dengan hamparan dataran berwarna putih. “We’re just arrived guys.”, kata Jamie. Eh? Apa ini? Rupanya Lake Tyrrell adalah danau endapan garam. Luas danau ini sekitar 20,860 hektar, dan merupakan yang terbesar di Victoria.


January 1, 2016

Catatan awal tahun

: matahari 

Apa rasanya jadi dirimu; tak mengenal suntuk untuk terus kembali, lalu tenggelam bersama kekuatiran manusia yang menantimu di bibir pantai. Apa rasanya jadi dirimu, menyaksikan sesak di kepala manusia yang mengharap guratmu sebagai pelipur, namun pulang dengan getir yang sama. Apa rasanya jadi dirimu; (yang mungkin) lelah tapi tak memiliki pilihan – selain bersinar, hingga derai luka di pipi kami mengering. Apa rasanya jadi dirimu tak lagi akan kupertanyakan. Karena dimulai hari ini, aku, akan mencoba meringankan bebanmu, dengan tak menjadi satu di antara mereka yang datang padamu dengan pilu.

Selamat memasuki babak baru, aku.



d.