About Me

November 29, 2012

Tentang Pekarangan


Hari ini aku mengolah beberapa petak tanah yang terlihat sepi di sudut rumah. Ya, sebut saja membentuk kebun, hal yang sudah lama tak kulakukan sejak kepindahanku di perumahan ini. Tak seluas pekarangan yang dulu, namun ini saja masih bisa ditanami banyak tumbuhan yang aku mau.

Kata ibu, untuk menanam suatu bibit, harus tahu karakter bibit tersebut. Ada tanaman yang harus ditanam dengan kedalaman medium, ada juga yang hanya diletakkan beberapa inci dari permukaan tanah. Jangan menggali terlalu dalam, belum tentu akar bibitnya kuat, ujar ibu.

Kata ibu, untuk menanam suatu bibit, kita harus tahu bibit tersebut subur di musim apa. Jangan lupa, jangan asal tanam bibit, kita harus cermat apa bentuk bijinya segar dan sempurna, supaya bunganya berkembang dengan sempurna, tambah ibu.

Kata ibu, setelah tahap-tahap itu, yang harus kita lakukan adalah pemeliharaan.  Sesempurnanya biji yang tertanam, akan percuma jika tak dijaga dengan tangan-tangan yang baik. Jangan lelah untuk sekedar menyiram, memetik yang layu, atau mencabuti rumput-rumput liar yang ada di sekitarnya, kata ibu sambil berlalu.


Aku bersandar dipagar sambil memperhatikan sepetak tanah yang baru kutanami Chrysanthemum indicum. Memilih bibit ini melalui banyak proses. Sudah kucermati dengan baik hal-hal yang akan merusak pertumbuhannya, dari jenis tanah, pupuk, hama, hingga penyakit tepung oidium yang mampu menyerangnya.

Semacam pembelajaran, bahwa apa yang kita anggap sepi belum tentu mati. Mungkin kita hanya butuh bongkahan niat untuk menggemburkan rasa, mulai menanam cinta, dan tumbuh bersama. Kadang, manusia lelah untuk melewati tahap-tahap tersebut hingga berakhir pasrah dan berharap bunga tumbuh dengan sendirinya. Kegagalan bunga, untuk di analisa; supaya kesalahan yang sama tak terulang di penanaman berikutnya. Keberhasilan bunga, dipersembahkan kepada mereka yang berbahagia atas pencapaian merawat, hingga mampu memetik, dan menjadi keindahan yang luhur di sudut-sudut kosong.


Bunga, titip rindu untuk dia yang merasa hatinya mati, ya? Aku akan menggembur rasa, aku ingin tumbuh bersamanya :')




   Jimbaran, 2012.
@cathadita

1 comment: