About Me

June 11, 2014

Nusa Penida: Menyusuri utara "The Golden Egg of Bali"

"Eh, foto di sini yuk! Keren banget warna lautnyaaa!", celetuk seseorang yang tak pernah menyangka bahwa Padang Bai seindah itu. Iya, seseorang itu adalah... Saya\(-_-") Ini adalah perjalanan pertama saya dan beberapa teman dari #melaligen melalui Padang Bai. Jalan-jalan kali ini dalam rangka ingin menyaksikan festival tahunan perdana yang diadakan oleh Nusa Penida. Dalam sehari, rute penyeberangan Padang Bai - Nusa Penida hanya ada sekali yaitu pukul 12.30. Per tanggal 1 Juni 2014, pemda menetapkan kenaikan tarif. Golongan II (motor) Rp 40.200, dan tarif penumpang (dewasa) Rp 28.000. Sembari menunggu jam keberangkatan, kami duduk di wantilan dekat dermaga. Di sana banyak pedagang yang menjajakan makanan, dari rujak buah sampai nasi bungkus. Waktu tempuh kapal Roro menuju Nusa Penida kurang lebih 1 jam. Mata kamu bakal dibikin seger kalau pilih tempat di geladak, warna lautnya ini loh jooooonn! :3

Yakan bikin pengen nyebur yakaaaan warna lautnya!


Karena nggak banyak kapal yang berlabuh di sini, jadi Greenish ini masih terjaga.

Pardon my selfieness, ehem.

Boys.. -_-"

Setiba di pelabuhan, kami langsung mencari tempat makan terdekat. Setelah berkeliling (banyak warung yang kehabisan nasi karena diborong panitia acara), akhirnya kami berlabuh di Kios Dewi. Konon harga minyak goreng di sini mahal, maka penduduk buat minyak sendiri dari kelapa. Nasi goreng telur pesanan kamipun dimasak dengan minyak kelapa, enak! Cuma Rp 8.000/ porsi. Setelah makan, kami memutuskan untuk menuju Crystal Bay. Berbekal marka jalan dan tekad, akhirnya kami tiba juga di lokasi. Jalanannya berbatu, juga ada tanjakan dan turunan yang lumayan curam; ini kondisi jalan apa proses deketin kamu sih, banyak aja rintangannya :)) Btw, jarak dari Sampalan menuju tempat ini kira-kira 10 km, yah sekitar 30 menit perjalanan dengan motor. Di Crystal Bay ada dua camp point, di sisi kanan (lengkap dengan fasilitas hammock, bale bengong, air bersih) dikenakan biaya Rp 25.000/ orang tapi harus check out sebelum jam 9 karena tempat ini digunakan untuk rest area salah satu perusahaan cruise. Sementara di sisi kiri adalah hamparan pasir dan terdapat mata air yang jernih banget. Buat kamu yang nggak mau camping, penginapan terdekat dari pantai adalah Namaste, tarifnya Rp 350.000 - 500.000/ malam. 

Nasi goreng telur Kios Dewi super enak. Nggak lupa jarah isi galon demi pasokan air sepanjang perjalanan :))

Touchdown Crystal Bay!


Setelah dipertimbangkan, karena kami nggak pengin buru-buru, akhirnya memilih camp di sisi kiri. Kelar pasang tenda niatnya snorkelling, berhubung high current (arus di Nusa Penida nggak bisa diprediksi) maka kami cuma berenang-berenang cantik dan fotoan di tepi. Oh ya, buat kamu yang nggak bawa alat snorkelling, di sini ada yang nyewain, Rp 25.000/ set. Di sini ada dua warung yang bisa menjamin kondisi perutmu. Saya sih milih warung mbok Kadek yang ada terasnya.

Camp ground, atapnya laris buat ngeringin baju :))

Berenang cantik. Sebelum keseret-seret ombak :))

Syukurlah saya bukan satu-satunya yang berperut buncit :))

Because selfieness is a must ~ #melaligen

Keuntungan jalan-jalan bareng cowok ya ini.. Jadi paling cantik sendiri :")

Jarang-jarang bisa liat sunset bulet begini, sambil berenang pula :')

Yak, sesi curhat dimulai :')

Suasana langit malam itu. Terang ya! Hasil Star mode di G16 nih ;)

Malam semakin larut obrolan pun makin ngalur-ngidul, tanda kudu memejamkan mata. Judulnya sih camping, tapi ya gitu selalu berakhir tidur berceceran di luar tenda. Tidur beratapkan bintang, kone :)) Beberapa jam kemudian saya mendengar ada beberapa dari kami stretching, ada yang barefoot lari sepanjang pantai, ada juga yang sudah singgah di warung Mbok Kadek untuk sarapan. Tak lama setelah berenang di pantai, kami didatangi beberapa orang dan diwawancara. Ternyata pagi itu adalah jadwal land touring di Crystal Bay untuk awak media. Jieeeh #melaligen masuk tipik, jieeeeh :)) Sekitar jam 11 kami mulai bongkar tenda dan bersiap menuju tempat lainnya.

Bangun tidur dapet pemandangan begini, gengs :')

Hihideungan jeung Yoga bechak :p

Yak, bersiap kembali.

Mbok Kadek. Abis pamitan, kita tempelin stiker di pintu. Sehat selalu ya mbok, semoga bisa berjumpa lagi. Terima kasih sudah menyediakan semua kemauan kami. Terutama teh panas gelas besar, dan popmie seduh yang harganya cuma goceng :')


Kita punya waktu 3 jam sebelum parade pembukaan Nusa Penida Festival. Karena nggak mau bengong di sana, akhirnya kami memutuskan untuk singgah di Toya Pakeh (karena sejalan dengan rute ke Sampalan, tempat berlangsungnya festival). Kami singgah di sebuah warung untuk makan siang, iseng-iseng ngobrol dengan warga lokal eeeh dikasih tau spot tak bernama yang katanya keren. "Adik harus jalan lewat sana, di bawah pohon besar itu ada gua kecil, di situ ada mata air jernih sekali!", katanya sambil menunjuk tebing di sisi kiri kami. Karena penasaran, akhirnya kami mengikuti jalan setapak yang sepertinya menuju ke tempat yang dimaksud si bapak tadi. Setelah trekking sedikit; naik-turun, akhirnya sampailah di yang-kami-sebut Secret Point. Jernih banget emang!

Jalan setapak menuju Secret Point. Ya ampun itu kulit apa arang, item banget :|

Nah ini dia tempatnya.

Mupeng nyebur apa daya mepet sama jam festival :))

Jalan turunan lainnya (teras ini kayaknya properti hut yang ada di belakang kami, letaknya bersebelahan dengan tangga menuju air jernih di atas).

Wandey.. wandey.. Bakal balik lagi kemari dan berenang sampai goa mata air!

Day-dreaming.

Jalan turun menuju pelabuhan Toya Pakeh.

30 menit sebelum parade dimulai, kami bergegas menuju Sampalan. Perjalanan dari Toya Pakeh menuju lapangan Batununggul sekitar 10 menit. Festival Nusa Penida digelar selama empat hari, mulai tanggal 8 sampai 11 Juni 2014 dengan agenda menampilkan ciri khas (makanan, budaya), land touring, hingga pameran fotografi. Setidaknya ada 16 desa yang terlibat dalam festival perdana ini. Selain itu, mereka juga menggelar lomba kuliner. Diantaranya: nasi sela (campuran nasi dan ubi), be awan sambal matah, puding rumput laut, bolu jagung, perkedel rumput laut, bahkan Desa Sekartaji menyajikan menu eksklusif yaitu bubur sarang burung walet. Jujur saja, saya mengenal Nusa Penida karena spot divingnya, dan tak pernah menyangka bahwa banyak keunikan yang bisa ditemukan di tiap desa di sini. Semoga tujuan festival ini tersampaikan, supaya Nusa Penida dikenal lebih luas lagi; tak hanya spot diving, tapi juga kebudayaannya.










Saya dan teman-teman #melaligen berpisah di lapangan Batununggul. Sementara yang lain kembali menuju Padang Bai, saya solo trip dua malam di Nusa Lembongan. Oh ya, jadwal penyeberangan dengan kapal Roro dari pelabuhan Sampalan ada dua: jam 06.00, dan jam 11.00. Tarif golongan II (motor): Rp 45.000, dan penumpang (dewasa): Rp 20.000. Pengin banget bisa ngikutin festival ini sampai selesai. Apalagi katanya bakal ditutup dengan penampilan Dewa Budjana. Tapi tetep seneng, karena akhirnya bisa mengenal sisi lain dari Nusa Penida. Semoga kita kembali dipertemukan ya! Masih penasaran sama Pura Goa Giri Putri dan air terjun Seganing. Sampai jumpa lagi, Nusa Penida! Btw, ini rute perjalanan kami:


Video perjalanan Nusa Penida bisa klik di sini. Terima kasih!

Tips:
~ Bawa surat kendaraan dan identitas yang lengkap, di pintu masuk pelabuhan ada pemeriksaan.
~ Gunakan cara manual untuk menuju lokasi yang kamu inginkan: marka jalan, dan bertanya. Sinyal provider merah agak ngaco di sini. 
~ Semua masakan di sini dimasak dengan minyak kelapa, jadi jangan kaget kalau makan apapun rasanya agak sama :))
~ Di Nusa Penida punya dua pertamina. Letaknya di Desa Ped, dan Desa Batununggul. Harga normal.
~ Di sini ada banyak bengkel.
~ Sering-sering ngobrol dengan warga lokal, terkadang keberuntungan datang dari sana. Termasuk menemukan spot-spot baru :p
~ Yang suka bikin sambel matah wajib beli minyak kelapa di sini. Satu botol air mineral tanggung cuma Rp 15.000. Di pasar dekat rumah saya harganya 2x lipat :))
~ Harga sewa motor di Nusa Penida: Rp 50.000
~ Kalau mau lanjut trip ke Lembongan/ Ceningan berangkat dari pelabuhan Toya Pakeh, tiba di Suspension Bridge. Lebih dari dua penumpang tarifnya Rp 15.000. Sendiri? Dianggap carter. Motornya ikutan nyeberang? + Rp 40.000. Jatuhnya lebih murah, karena nggak perlu bayar Rp 60.000/ hari buat sewa di sana.
~ Setelah tiba di Padang Bai, jangan lupa mampir ke Sate Ikan Mertha Sari, Klungkung! Selamat menjelajah!

14 comments:

  1. Pengen ikutan bertualang sama melaligen :)

    ReplyDelete
  2. ahahaahahahah si hendra galauuuu

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Yuk yuk, wajib balik ke sana nih. Belum eksplor yang lain, hiks.

      Delete
  4. Dr dl mau ke pulau ini tp ngga kesampaian, melali gen emang texasss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihiy! Ayo segera diluangkan waktunya, nggak bakal nyesel ke Nusa Penida >.<

      Delete
  5. Replies
    1. It is! Sayang tahun ini nggak bisa hadir di festival.

      Delete
  6. Boleh minta no telp sewa motornya?

    ReplyDelete
  7. Info donk camping di crystal bay, apakah bawa peralatan sendiri? motor di parkir dimana? Rencana mau pake kapal roro

    ReplyDelete
  8. ya bw peralatan sendiri karena dsini belum ada yang nyewain alat camping di nusa penida, kalo butuh sewa motor dan booking mobil bisa hub. 085238548692

    ReplyDelete