About Me

January 17, 2013

Balon untuk Rinduku di Seberang Sana


Pagi di pelosok dewata. Dingin memeluk raga, embun terlelap di tiap helai rambut. Ada juga kicau cinenen kegirangan yang menemukan bunga pohon randu. Suaranya merdu, sesaat mengelabui suara hati untuk tak menerbangkan balonku. Iya, sebuah balon, warnanya merah menyala berisi gas doa dan rindu yang kutiup hingga habis napas.

Tujuh ratus sepuluh kilometer jaraknya, aku harap kau mengerti jika setiba di tanganmu warnanya pudar dan agak kempis, sebab ada terik dan titik-titik hujan yang harus ia lewati. Jangan kuatir, aku menyatukan karet, lateks, chloroprene, dan nilon sehingga kuat, dan tak akan meletus dalam perjalanannya menuju titik gravitasiku, kamu. 


Jika balonku tiba, aku ingin kau membuka ikatannya, dan menyempurnakan bentuknya dengan napasmu. Tiupkan perlahan, bawa serta doa, rindu, dan mimpi-mimpi yang pernah kita ucap.

Walau raga belum diperkenankan bertemu, setidaknya rindu-rindu kita sudah saling berpeluk di dalam balon itu. Berjanjilah kau akan setia meniupkannya kembali saat ia kembali kempis. Berjanjilah kau tak akan membuka ikatannya, agar ada rindu yang bisa kita hirup bersama setibaku di sana.



Yang merindumu tanpa kenal waktu,
Dica


3 comments:

  1. Sebuah kerinduan jiwa yang membara dari seorang wanita, dia begitu sabar....cintanya begitu tulus. Kau lelaki tujuh ratus sepuluh kilometer, betapa beruntungnya kau memiliki wanita yang begitu tulus menyayangimu. Semoga kau tidak sia-siakan cintanya...!

    @ChoiRhUdA

    ReplyDelete
  2. Jangan lupa ada gagak hitam yang senantiasa ingin merusak balon berwarna.

    ReplyDelete