About Me

November 28, 2011

THE AWESOMENESS OF BEING 22



Bunches of happiness flooded when I received a mention from him. Its Carter Bays!

November 21, 2011

Why Do People Keep Doing This?


When someone does me (a) Boo Boo(s), I usually have no problem forgiving them because I don't like carry grudges if only makes me feel bad & really does nothing to help the situation. But I found some friends that keep hating their past and it surprised me. They start talking about how they were so in-love with the Ex back then. But they don't stop there, they are keep cursing the Ex. And it really eating away at me.

And my question is, why do they keep referring to the past? Why do they keep cursing to the Ex(es), if what they had today is so much better than its past.

Flashback our own past can be useful to remind ourselves of how far we've progressed in life. But pointing out of other people continuously really makes you like you're living in the past & not wanting to move on. Hang loose, hang tough on the present, and (at least) forget your past if you still cannot forgive them. Life's hard enough, don't carry your bad experience in the past for your future.


d.

May 21, 2011

What a Blessed Saturday!

"Budj, ini ada yang mau ketemu..."

"Oh, iya. Sebentar, masih foto sekali lagi."
"Halo... Budjana." *Menyodorkan tangan*

"...Di..Dita." *gemetar* *nyaris pingsan*


Kegemaran saya mendengarkan musik berelemen blue notes, improvisasi, polyrhythms, sinkopasi, dan shuffle note ini semakin menjadi sejak menjalin hubungan dengan salah satu personil sebuah band jazz. Beragam event jazz lokal hingga internasional, bahkan meluangkan waktu untuk menghadiri pagelaran jazz dunia pun saya lakukan.

Budjana, adalah satu-satunya musisi lokal yang dari dulu memang saya gilai. Tergabung dalam sebuah band rock tak juga menghapus sense arpegio yang merupakan salah satu ciri khas permainan jazz. Bahkan kadang ia menyelipkan broken chord di tiap interlude saat berimprovisasi live dari atas pentas.


Setelah sekian kali hanya melihatnya dari bawah panggung, akhirnya hari ini saya bertemu langsung, bahkan berbincang sedikit dengan musisi dingin ini.

Thanks untuk Boshe VVIP Club yang menjadi tempat perhelatan Road To Soundrenalin 2011 sehingga GIGI akhirnya perform di tempat ini. Thanks juga untuk Pak Bagus yang sudah menarik saya untuk menemui sang idola, Budjana. Beliau memang satu-satunya musisi yang sangat ingin saya jumpai secara personal



Dita. x

May 1, 2011

Talkin' Loud, Sunday!

Pekerjaan baru ini memaksa saya untuk lebih menghargai hari Minggu. Bagaimana tidak, 6 hari bekerja dan saya hanya memiliki 1 x 24 jam untuk (benar-benar) lepas dari tumpukan file perusahaan. Dan Minggu ini saya memutuskan untuk sleepover dan rumpi (dan makan besar-besaran) bareng Ko Rudy. Nasi Babi Guling Bakas, leyeh-leyeh sambil buka topik, dan mengudap Ketoprak & Rujak Kacang ala STOP Makan Yuk! sukses menghiasi lambung kami yang tak pernah penuh itu.

Kebahagiaan Minggu ini tak berhenti begitu saja. Incognito perform di Woobar! Sementara Ko Rudy terlilit drama CLGK (Cinta Lama Ga Kelar2), saya pun melarikan diri menuju Seminyak. Atas segala usaha menembus antrian kendaraan di seputar Jl. Petitenget, akhirnya saya tiba dengan selamat walau harus melewatkan 3 lagu yang sudah mereka bawakan.

Dan inilah beberapa momen yang saya tangkap :


Malam itu saya berdiri tepat di depan panggung bersama pasangan fangki Indah Yuniorika dan Reza Kolie. Selain Incognito, Dira Sugandi juga hadir dan membawakan 2 buah lagu. Performa band yang di release pada 1981 yang lalu ini tak perlu lagi di deskripsikan. Kesempurnaanya terlalu nyata untuk dibawakan secara live. Outside tune yang mereka sajikan mengundang hasrat kami untuk tak berhenti menghentakan kaki. Jean-Paul 'Bluey' Maunick sebagai frontman, composer, record producer, gitaris, dan penyanyi, malam itu juga beraksi dari balik DJ booth milik Woobar. Minggu ini benar-benar Talkin' Loud kalau kata Incognito. Sungguh awal bulan yang menyenangkan. Lets talkin' louder for the next weekend, Sunday! ;)

January 17, 2011

Rumit.


Susah tidur. Pikiran ngalor-ngidul. Kesana kemari, berlari-lari.
Tak terbayangkan berapa banyak labirin yang terbentuk akan problematika hati dan intuisi.


Berenang. Memoria kembali bersua dengan sabda. Sabda implisit yang kemudian hanya hati yang dipaksa untuk mengerti, rumit.

Waktu itu gelap pekat, jemarimu merapat. Hujaman tatapan hangat, kemudian saling memeluk dengan erat.

Matahari mengganas di peraduannya, ia tertawa melihat seisi jagad resah karena gerah. Tanpa getir kita terus menjelajah, tak peduli walau tanpa arah.

Ada pula cerita kala hujan. Waktu kita saling menggenggam – tanpa ragu hujan ditembus dan terus berjalan. Irama langkah kita sama, hanya ukuran dan balutannya yang berbeda.

Lihat! Betapa istimewanya kita, dulu.

Seisi alam raya tau, para dewa pun ikut bertanya dengan malu.

Kemudian di mana dirimu?
Masih ingin tenggelam dalam bisu? Atau masih ingin pura-pura tidak tahu?

Saya iri dengan awan, bintang, matahari, dan pelangi. Langit begitu setia hadir tanpa melihat benda apa yang akan ia temani. Ia sederhana, ia tak memilah, ia tak pernah berubah.
Sederhana. Pinta saya hanya ingin dicintai dengan sederhana, dan perlahan meraih bahagia.


PS: Saya rindu kamu yang dulu, masih pantaskah kamu untuk ditunggu?
d. 

January 11, 2011

Interlude.

Bantal, guling, selimut, & kasur yang nyaman. Piyama, petikan gitar papa, dan susu hangat sebelum tidur. Ya itulah masa-masa wajar saya upaya menggapai lelap, menguntai mimpi, dengan durasi senormal-normalnya. 8 jam. Tapi itu dulu. Dulu. Beberapa tahun silam.

Kini? *jrenggg..


Dengan laptop menyala, diantara tumpukan buku, dengan posisi yang tak mengenakan, plus durasi sesingkat-singkatnya dikarenakan adat istiadat pekerjaan: tidur pagi - bagun pagi.

Sampai saat ini saya masih memutar otak bagaimana caranya menyeimbangkan waktu dengan jumlah aktivitas saya yang membabi buta. Semoga dengan pengunduran diri di bulan Februari bisa menjadi awal yang baik untuk memperbaiki pola tidur. Please be nice to me, 2011.


Selamat beristirahat, semua!


Dita. x