About Me

June 10, 2016

Mantar: Negeri di atas awan

Rasanya tak pernah bosan untuk mengunjungi pulau yang satu ini. Meski terhitung jauh, kapanpun ada tawaran singgah di sini, saya tidak mampu menolak :)) Tarif ferry Lombok – Sumbawa masih sama yaitu IDR49.500/ motor, tanpa diberi kembalian, hahaha. Setiba di Pototano, kami langsung bertemu dengan Comenk; teman baru, yang akan menjadi pemandu kami. Karena hari sudah gelap, kami bergegas menuju Ranger point yang berada di rumah keluarga Comenk. Untuk menuju desa yang ingin kami tuju terdapat 3 cara, yaitu: jalan kaki (jarak tempuh 2 jam untuk warga lokal), menggunakan sepeda motor, atau sewa Ranger. Pilihan kami jatuh pada pilihan terakhir. Kenapa? Karena dari berita yang kami dengar, tanjakan menuju puncak cukup curam. Setelah berada di atas motor selama 12 jam Bali – Lombok – Sumbawa, badan saya tiba-tiba ngilu dengan pilihan pertama. Juga nomor 2. Lagipula, biaya Ranger tidak mahal, karena ditanggung bersama. (Ngeles) (Padahal karena badan menua) (Hiks)

Desa ini disebut sebagai desa di atas awan; karena letaknya di dataran tinggi, tepatnya 600mdpl. Dan benar saja, tanjakan selama perjalanan cukup membuat saya baca doa Bapa Kami, dan tiga kali Salam Maria. Kami tiba di puncak kira-kira pukul 10 malam. Yang rencananya langsung membangun tenda, namun gagal karena kami menemukan bale di tengah kebun jagung. “Yes, tinggal gelar matras dan sleeping bag.”, kata saya dalam hati, mungkin juga teman yang lain. Selang beberapa waktu, gigitan mulai terasa. Tak lama, nyamuk mulai menggerayangi sekujur tubuh kami. Kata Comenk, karena tidak ada angin, maka nyamuk keluar semua. Alhasil sepanjang malam mata kami terpejam, dengan tangan yang tak henti menggaruk. Beberapa teman mencoba mengatasi keadaan tersebut dengan membuat asap dari sisa daun jagung kering. Lumayan mengurangi nyamuk. Sesaat. Setelah itu mereka kembali lagi. Dan malam itu kami terlelap bermandikan nyamuk, serta berbalur asap :))



Jelang pagi, desiran angin mulai terasa. Nampaknya serangan nyamuk sudah berakhir. Mereka lenyap, meninggalkan jejak bentol-merah di badan kami :)) Matahari mulai meninggi. Setelah berkemas, kami bergegas duduk di tepi bukit menyaksikan guratan mentari. Melihat pemandangan seindah ini, rasanya perjuangan kami berperang dengan nyamuk semalam terbayar. Dari bale, kami berjalan menuju Paralayang point untuk menunggu jemputan Ranger. Ah ya, tahun lalu desa Mantar menggelar kegiatan paralayang tingkat internasional, dalam rangka ulang tahun Kabupaten Sumbawa Barat. Sebelum adanya acara ini, tempat ini dikenal karena merupakan lokasi film garapan Ari Sihasale: Serdadu Kumbang. Tak hanya itu, desa ini juga sarat sejarah. Dari albino yang harus berjumlah 7, hingga kehadiran Ai Mante; mata air yang telah menghidupi warga sejak puluhan tahun silam.



 





Tak lama setelah makan pagi dengan pemandangan-yang-luar-biasa, Ranger datang. Namun, kami harus menunggu 40 menit lagi karena saat itu di puncak Mantar ada dua rombongan, sementara kami mengejar waktu menuju destinasi lainnya. Alhasil, rasanya lebih dari 10 orang, kami duduk bersama kelompok lain kembali menuju Seteluk. Sempit banget? Tentu, berdesakan dengan penumpang dan keril. Tapi seru karena saat jalan turunan, bak paduan suara – kami teriak bersama :))


 
Demikian persinggahan saya dan teman-teman #melaligen di Mantar. Semoga menginspirasi kamu yang ingin berlibur dalam waktu dekat ya! Ps: Yang mau kontak Ranger, bisa tinggalkan pesan di kolom komentar.


d.
Pic credit: Cathadita, & Ayyiex Falgunadi.


No comments:

Post a Comment