About Me

June 10, 2016

Teluk Brumbun: Bermalam dengan jalak Bali

Beberapa kali mengunjungi pulau Menjangan, namun #melaligen tak pernah sempat mampir menelusuri Taman Nasional Bali Barat. Perjalanan ke Teluk Brumbun kali ini juga merupakan acara "pelepasan" salah satu teman saya, Surya, akan berangkat berlayar. Jika tak mengambil momen ini, entah kapan kami semua bisa singgah di TNBB :))

Jujur, saya tak pernah mencari tahu apa isi taman nasional ini. Seperti biasa, sebelum memulai perjalanan, kami berkunjung ke rumah Cak Ismu. Keuntungan mengenal warga lokal adalah kemudahan akses dan informasi setempat. Kami diperkenalkan dengan 2 pemandu lokal: pak Sahlan, dan pak Zulham yang akan mengantar kami menuju lokasi. Setelah makan siang, kami memulai perjalanan. Tiket masuk TNBB saat ini IDR10,000 untuk lokal, dan IDR200,000 untuk WNA. Dari gerbang menuju bibir teluk memakan waktu 45 menit dengan motor. Jalannya berbatu dan becek sisa hujan, jadi harus ekstra hati-hati saat mengemudi. Di dalam taman nasional terdapat berbagai habitat hutan seperti hutan bakau, hutan musim, hutan pantai, tak lupa sabana. Unik, karena merupakan perpaduan antara dua ekosistem yaitu darat dan laut.


Mantar: Negeri di atas awan

Rasanya tak pernah bosan untuk mengunjungi pulau yang satu ini. Meski terhitung jauh, kapanpun ada tawaran singgah di sini, saya tidak mampu menolak :)) Tarif ferry Lombok – Sumbawa masih sama yaitu IDR49.500/ motor, tanpa diberi kembalian, hahaha. Setiba di Pototano, kami langsung bertemu dengan Comenk; teman baru, yang akan menjadi pemandu kami. Karena hari sudah gelap, kami bergegas menuju Ranger point yang berada di rumah keluarga Comenk. Untuk menuju desa yang ingin kami tuju terdapat 3 cara, yaitu: jalan kaki (jarak tempuh 2 jam untuk warga lokal), menggunakan sepeda motor, atau sewa Ranger. Pilihan kami jatuh pada pilihan terakhir. Kenapa? Karena dari berita yang kami dengar, tanjakan menuju puncak cukup curam. Setelah berada di atas motor selama 12 jam Bali – Lombok – Sumbawa, badan saya tiba-tiba ngilu dengan pilihan pertama. Juga nomor 2. Lagipula, biaya Ranger tidak mahal, karena ditanggung bersama. (Ngeles) (Padahal karena badan menua) (Hiks)

Desa ini disebut sebagai desa di atas awan; karena letaknya di dataran tinggi, tepatnya 600mdpl. Dan benar saja, tanjakan selama perjalanan cukup membuat saya baca doa Bapa Kami, dan tiga kali Salam Maria. Kami tiba di puncak kira-kira pukul 10 malam. Yang rencananya langsung membangun tenda, namun gagal karena kami menemukan bale di tengah kebun jagung. “Yes, tinggal gelar matras dan sleeping bag.”, kata saya dalam hati, mungkin juga teman yang lain. Selang beberapa waktu, gigitan mulai terasa. Tak lama, nyamuk mulai menggerayangi sekujur tubuh kami. Kata Comenk, karena tidak ada angin, maka nyamuk keluar semua. Alhasil sepanjang malam mata kami terpejam, dengan tangan yang tak henti menggaruk. Beberapa teman mencoba mengatasi keadaan tersebut dengan membuat asap dari sisa daun jagung kering. Lumayan mengurangi nyamuk. Sesaat. Setelah itu mereka kembali lagi. Dan malam itu kami terlelap bermandikan nyamuk, serta berbalur asap :))