About Me

February 24, 2015

Proses pengajuan Working Holiday Visa

Siapa sih yang nggak tahu visa yang konon lagi heitsss ini?! Yang tadinya kuota hanya 100, menjadi 1000/ tahun. Beberapa aplikan bahkan resign dari kantor demi tercapainya cita-cita berwisata selama satu tahun di negara tetangga. Yak, saya salah satunya :)) visa ini tak lain tak bukan saya ketahui dari Daniel Giovanni (@qronoz), yang nampaknya sekarang jadi kepala rekrutmen WHV regional Jakarta. Ini lo sistem komisi apa gimana, nyos? Lol.

Saat itu saya menghadiri farewell Onyos di The Deck, yang akan hijrah ke Australia. Konon, Andi juga akan apply visa yang sama. Biasa ya khayal-khayal babu kami bakal berada di Australia bersama. Tapi karena suatu dan lain hal saya molor, dan Andi yang lebih dulu granted memilih menjadi budak korporat di ibukota. Visanya dipakai untuk visit aja, katanya. Bebas! :))

13 November 2013 - The Deck. Saat saya masih bahagia gemuk :))

February 5, 2015

Kenawa: Malam pertama di NTB

Setelah jelajah 3 Gili dan bermalam di Lombok, kira-kira pukul 12 kami melanjutkan perjalanan. Meski bukan bidadari, tapi tujuan pertama kami kali ini adalah (pelabuhan) Kayangan. Setelah clingukan mencari rekan bidadari yang lain membayar tiket kapal sebesar IDR52.000, kami dipersilakan parkir dan memasuki area ruang tunggu penumpang. Kira-kira pukul 2 kapal KMP Kalebi menaikkan jangkarnya.
 
 

February 4, 2015

Tiga Gili di Sekotong

Setelah bersemedi soal rute, logistik, hingga budget, akhirnya saya, Popo, Ayik, dan Yoga memulai pengembaraan #triptigapulau dengan mengendarai motor. Tiga pulau? Yak! Destinasi pertama diawali dengan perjalanan ke Lombok. Jam terbaik (buat kami) untuk menyeberang adalah jam 2, atau jam 3 malam.  Kenapa? Karena kamu bakal tiba di Lembar saat mentari meninggi, langsung bisa jalan-jalan.

Tarif penyeberangan motor dari Padang Bai menuju Lembar sebesar IDR125.000. Setelah 4 jam menyeberangi selat, kami tiba juga di Lombok. Tanpa pikir panjang, perjalanan pun kami lanjutkan menuju Sekotong. Saat itu matahari belum terlalu tinggi, kabut masih terlihat, dan jalanan amat lengang. Perjalanan menuju Sekotong Barat sangatlah menarik; dari pemandangan perbukitan, teluk, hingga tikungan beraspal mulus. Setiba di pelabuhan Sekotong, kami langsung didatangi oleh warga lokal yang nampaknya membaca gelagat kami yang sedang mencari pasangan hidup perahu. Mas Zoel, menawarkan jasa penyeberangan seharga IDR278.000 untuk 3 Gili. Tentu, ini sudah melewati proses tawar-menawar yang alot damai. Setelah sepakat dengan harganya, kami bergegas menuju warung terdekat untuk sarapan. Yak, belum sah ke Lombok kalau belum mencicipi plecing kangkung yang kemrenyes itu. Jadilah kami merogoh IDR10.000 untuk semangkuk plecing, lontong berbentuk kerucut, serta kopi.