About Me

January 17, 2013

Balon untuk Rinduku di Seberang Sana


Pagi di pelosok dewata. Dingin memeluk raga, embun terlelap di tiap helai rambut. Ada juga kicau cinenen kegirangan yang menemukan bunga pohon randu. Suaranya merdu, sesaat mengelabui suara hati untuk tak menerbangkan balonku. Iya, sebuah balon, warnanya merah menyala berisi gas doa dan rindu yang kutiup hingga habis napas.

Tujuh ratus sepuluh kilometer jaraknya, aku harap kau mengerti jika setiba di tanganmu warnanya pudar dan agak kempis, sebab ada terik dan titik-titik hujan yang harus ia lewati. Jangan kuatir, aku menyatukan karet, lateks, chloroprene, dan nilon sehingga kuat, dan tak akan meletus dalam perjalanannya menuju titik gravitasiku, kamu. 

January 16, 2013

Yang (sementara) terabaikan.


Separuh Seninku habis diserap cemas di ruang tunggu stasiun. Melakukan kebiasaan yang sama, menanti hal yang sama, di waktu yang sama. Tak ada yang berubah dariku meski banyak kenangan yang dengan mudah kau kemas. Aku termangu di depan cermin pupur dengan nostalgia yang tak pernah lelah mengulang dirinya. Ya, memang sulit diterima. Selain waktu, rupanya kau membawa serta seseorang untuk menggulung kenangan kita.

Tujuh ratus tiga puluh hari kebersamaan tak juga membuat kita hapal bagaimana cara bertahan. Pada seutuhnya dirimu, masih kulihat separuh diriku bernaung di sana. Hanya saja nalurimu tersesat di belantara keduniawian yang kau temukan di tiap lekuk perempuan itu. Di dadaku, yang tersisa hanya kisahmu, dan tak pernah ingin kuselesaikan. Ah, keloneng memori berderu. Rindu yang ku eram menetas pilu. Ada harap yang diam-diam kupelihara, mengembalikanmu seperti sediakala bagaimana pun caranya.

January 14, 2013

Letupan kekaguman.


(Merupakan surat balasan dari Sini)
Teruntuk @catatansiDoy, sorotan ranah twitter.


Aku terkejut membaca surat cinta yang kau tujukan untukku. Suratmu kubaca dengan kesungguhan, serta rona pipi yang enggan padam. Kepalaku berputar, aku tak yakin bahwa obyek suratmu adalah sosokku yang rasanya jauh dari aku, di mataku.

Ngomong-ngomong, di sini sedang diguyur hujan serta angin, dinginnya menggigit persendian. Jari tanganku linu, telapak tangan sesekali kudekapkan pada cangkir teh yang kepulan panasnya membumbung tepat di wajahku.

Ah, Dion...

Perihal dirimu, apalah yang mampu kuungkap selain sosok hangat ketika menyambutku yang sesaat singgah di kotamu. Terbayang pertemuan pertama kita yang penuh dengan polah hasil ringkasan media sosial. Masih ingat perdebatan kita soal logika dan hati atas teori otak kanan dan kiri yang kubuat sendiri? Senang ya, bisa mendengar buah pikir dari dua sisi.

Desember.


Dari tempat duduk nomor dua di belakang supir ini, aku mampu melihat hamparan sawah yang kulewati sesaat meninggalkan kotamu. Jantungku berdetak mengikuti irama jarum jam yang rasanya bergerak lebih lambat dari biasanya. Hembusan angin yang kencang seperti membaca gelisahku, kemudian menggoda dalam lambaian padi yang menguning.

Bulir air dari mendung mata yang sedari perpisahan tadi kusembunyikan, akhirnya terpelanting di pipi. Alunan Desember milik Efek Rumah Kaca mengalun mengantarku menuju kota yang kutuju. Betapa Desember membawaku menuju kita. Tentang jarak yang baru saja kita buat, tentang rindu yang harus kita hemat.

Ponselku bergetar. Terbaca nama yang selalu memenuhi kepalaku di layar.
"Sampai jumpa di waktu yang kelak kita sepakati bersama. Jaga hatimu, hati."