About Me

September 11, 2013

Kita adalah Karakter dalam Novel yang Buruk.

Hal terbaik yang pernah kurasakan adalah saat hatiku menjatuhkan diri padamu. Juga di malam kau tertidur di dadaku, aku bisa mengusap dan mencium keningmu sesukaku. Serta pagi di sebuah entah; ada kopi hitam, kicau burung cager, dan kau yang tertawa lepas saat gagal memahami gurauanku. Kita telah berbincang banyak hal; dari apa hingga bagaimana. Kita juga sesekali berlayar ke samudera lepas, namun kembali; saling sadar bahwa masing-masing kita adalah tujuan pulang.

Sayang, kita adalah karakter yang terjebak dalam novel yang buruk. Ia memberi banyak konflik layaknya kehidupan nyata. Ia membuat pertemuan yang sempurna, namun memberi akhir penuh luka. Ia kembali membawa keluarga dan agama untuk memisah kita.

Kita adalah karakter dalam novel yang buruk. Aku berharap bisa melawan dan mengambil alih akhir dari kisah ini. Mengingatkan Ia bahwa sebuah akhir bisa dibuat sempurna di sini. Mengingatkan Ia bahwa kita hanyalah karakter-karakter yang lelah dengan perpisahan, dan berhak mendapat akhir sebuah kita yang saling mempertahankan.

September 4, 2013

Hatiku

hatiku selembar kain pada ragamu;
sebentar, biarkan aku sejenak memeluk;
sebelum kau menggantiku dengan yang lain.



Denpasar, 2013.

June 18, 2013

Membayangkan Kita.

Suatu hari aku membayangkan kita...

Duduk berdua di beranda rumah; aku memperhatikan kau yang sibuk meniup kepulan asap yang berebut memeluk wajahmu dari cangkir kopi itu. Kau ambil surat kabar, sesekali dahimu mengernyit, juga terselip gumam tanda tak setuju pada aksara yang tersaji di dalamnya. Setelah lelah, kau mulai bertanya apa yang akan kumasak hari ini. 

Sepuluh tahun sesudahnya, kita masih di beranda yang sama. Kali ini kau memilih secangkir teh, mengingat kondisi lambungmu yang tak lagi sanggup menerima kafein. Aku menghampiri, membawa keranjang berisi bekal dan menenteng tikar. Jagoan kita memperoleh upah belajarnya; piknik di tepi danau pada akhir pekan. Aku masih ingat mimik bangga saat ia berlari ke arahmu sambil menggenggam piala.

Dua puluh tahun kemudian, di sudut beranda kegemaran kita, kau berjalan mengitari kebun. Kau memuji mawar dan bunga terompet mekar yang kutanam di dekat gerbang rumah. Kau juga bercerita soal hari-hari di kantor dan beberapa rekan yang menyebalkan. Aku menyelipkan tawa dan mengusap punggungmu, dalih meredakan nadamu yang mulai meninggi.


March 21, 2013

Hal Yang Mungkin Tak Kau Sadari.

Langit yang pemurung, tak lama hujan turut hadir.
Permukaan mulai basah. Air serta kenangan menyusup; mampir.
Kau hangat. Aku mulai dingin, menahan getir.
Dikepung masa lalu kau anggap bagian dari takdir.

Sayang, petak pijakku semakin sempit,
mengapa kau biarkan nama-nama ini memakan ruangku?
Sayang, ragam kenanganmu hampir menenggelamkanku,
sampai kapan kau biarkan aku terhimpit?


— sosok kecil yang nyaris mati di hatimu yang lapang namun penuh dengan nama mereka yang tak pernah kuketahui.
Kuta, 2013.

March 20, 2013

Semoga Ini Tak Terjadi Pada Kita.

Kau tahu akhir dari dua hati yang meragu?
Saling panggil sayang, namun tak saling pandang.

March 19, 2013

Aku Yang Tak Ada Dalam Kau.

Aku membiarkan pikiranku dijejali pekerjaan, supaya berkurang ruangku yang padat akan kau. Aku bicara tanpa henti, supaya kau tahu banyak hal yang ingin selalu kubagi. Aku bertanya tanpa jeda, supaya aku mengerti apa yang kau ingini. Aku mengukir besar-besar namamu di hati, supaya tak ada nama lain yang berusaha tinggal di sini. Aku belajar meredam keluh, supaya lelahku tak lagi memberatkan kepalamu. Aku fokus pada keberanian, supaya makna takut hanya saat aku terbangun dan kau tak ada. Aku menghemat rindu, supaya kelak kita hamburkan pada peluk yang tak rela kita lepaskan. Aku menganggapmu rumah, supaya dalam segala lelahku; pulang adalah saat yang paling kutunggu. Aku mengabaikan sikap-sikap ganjilmu, supaya tetap yakin bahwa hadirmu adalah penggenapanNya untukku. Aku menyayangimu dengan cara yang berlebihan, supaya tersaru aku yang serba kurang. Aku menyebut namamu berulang di tiap doa, supaya Tuhan tak lagi menyediakan nama lain untukku. Aku membuat tulisan ini, supaya kau tahu bagaimanapun kau; aku sayang kamu, aku sayang kamu, aku sayang kamu, dan tak akan lelah kuucap secara berulang-ulang.


Tapi apalah upayaku jika kau tak melakukan hal yang sama.

Jimbaran, 2013.


March 9, 2013

Cerita Seorang Perempuan Yang Senantiasa Meyakinkan Hatinya Bahwa Masa Lalu Tak Mungkin Terulang.

A: "Sayang, aku menginap di rumah teman. Namanya Rudy."

B: "Rudy? Sama siapa aja di sana? Rumahnya di daerah mana? Coba kirimin foto mana yang namanya Rudy. Bukan perempuan kan? Kamu ga lagi bohongin aku kan?"

B: "Iya, sayang. Jaga diri ya :) "

January 17, 2013

Balon untuk Rinduku di Seberang Sana


Pagi di pelosok dewata. Dingin memeluk raga, embun terlelap di tiap helai rambut. Ada juga kicau cinenen kegirangan yang menemukan bunga pohon randu. Suaranya merdu, sesaat mengelabui suara hati untuk tak menerbangkan balonku. Iya, sebuah balon, warnanya merah menyala berisi gas doa dan rindu yang kutiup hingga habis napas.

Tujuh ratus sepuluh kilometer jaraknya, aku harap kau mengerti jika setiba di tanganmu warnanya pudar dan agak kempis, sebab ada terik dan titik-titik hujan yang harus ia lewati. Jangan kuatir, aku menyatukan karet, lateks, chloroprene, dan nilon sehingga kuat, dan tak akan meletus dalam perjalanannya menuju titik gravitasiku, kamu. 

January 16, 2013

Yang (sementara) terabaikan.


Separuh Seninku habis diserap cemas di ruang tunggu stasiun. Melakukan kebiasaan yang sama, menanti hal yang sama, di waktu yang sama. Tak ada yang berubah dariku meski banyak kenangan yang dengan mudah kau kemas. Aku termangu di depan cermin pupur dengan nostalgia yang tak pernah lelah mengulang dirinya. Ya, memang sulit diterima. Selain waktu, rupanya kau membawa serta seseorang untuk menggulung kenangan kita.

Tujuh ratus tiga puluh hari kebersamaan tak juga membuat kita hapal bagaimana cara bertahan. Pada seutuhnya dirimu, masih kulihat separuh diriku bernaung di sana. Hanya saja nalurimu tersesat di belantara keduniawian yang kau temukan di tiap lekuk perempuan itu. Di dadaku, yang tersisa hanya kisahmu, dan tak pernah ingin kuselesaikan. Ah, keloneng memori berderu. Rindu yang ku eram menetas pilu. Ada harap yang diam-diam kupelihara, mengembalikanmu seperti sediakala bagaimana pun caranya.

January 14, 2013

Letupan kekaguman.


(Merupakan surat balasan dari Sini)
Teruntuk @catatansiDoy, sorotan ranah twitter.


Aku terkejut membaca surat cinta yang kau tujukan untukku. Suratmu kubaca dengan kesungguhan, serta rona pipi yang enggan padam. Kepalaku berputar, aku tak yakin bahwa obyek suratmu adalah sosokku yang rasanya jauh dari aku, di mataku.

Ngomong-ngomong, di sini sedang diguyur hujan serta angin, dinginnya menggigit persendian. Jari tanganku linu, telapak tangan sesekali kudekapkan pada cangkir teh yang kepulan panasnya membumbung tepat di wajahku.

Ah, Dion...

Perihal dirimu, apalah yang mampu kuungkap selain sosok hangat ketika menyambutku yang sesaat singgah di kotamu. Terbayang pertemuan pertama kita yang penuh dengan polah hasil ringkasan media sosial. Masih ingat perdebatan kita soal logika dan hati atas teori otak kanan dan kiri yang kubuat sendiri? Senang ya, bisa mendengar buah pikir dari dua sisi.

Desember.


Dari tempat duduk nomor dua di belakang supir ini, aku mampu melihat hamparan sawah yang kulewati sesaat meninggalkan kotamu. Jantungku berdetak mengikuti irama jarum jam yang rasanya bergerak lebih lambat dari biasanya. Hembusan angin yang kencang seperti membaca gelisahku, kemudian menggoda dalam lambaian padi yang menguning.

Bulir air dari mendung mata yang sedari perpisahan tadi kusembunyikan, akhirnya terpelanting di pipi. Alunan Desember milik Efek Rumah Kaca mengalun mengantarku menuju kota yang kutuju. Betapa Desember membawaku menuju kita. Tentang jarak yang baru saja kita buat, tentang rindu yang harus kita hemat.

Ponselku bergetar. Terbaca nama yang selalu memenuhi kepalaku di layar.
"Sampai jumpa di waktu yang kelak kita sepakati bersama. Jaga hatimu, hati."